Tahun 25 Hijriah, Diplomasi Kapal Perang dan Bibit Konflik Internal

Malam ini, ngaji kitab Al Bidayah Wan Nihayah rasanya seperti diajak flashback jauh ke tahun 25 Hijriah atau 645 Masehi. Gus Ziyyulhaq membuka lembaran sejarah tahun ini dengan menyebutnya sebagai tahun yang lumayan “padat”. Peta dunia Islam saat itu sedang berubah drastis, tapi di sisi lain, suasana di pusat pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan juga mulai menghangat. Cerita dimulai dari kabar tentang jatuhnya kota pelabuhan legendaris, Iskandariyah (Alexandria), ke tangan pasukan Amr bin Ash.

Yang menarik, Gus Ziyyulhaq menjelaskan kalau pengambilalihan kota ini justru terjadi lewat jalur diplomasi, bukan adu pedang. “Wong Romawi wis jiper dhisik,” (Orang Romawi sudah takut/gentar duluan) celetuk beliau santai menggambarkan mental pasukan Romawi waktu itu. Melihat reputasi pasukan Islam yang sudah menguasai banyak wilayah, mereka memilih realistis dan menyerah damai. Gara-gara ini, kaum Muslimin jadi “panen” armada kapal perang dan kapal dagang Romawi secara utuh. Kata Gus Ziyyulhaq, momen inilah yang jadi cikal bakal lahirnya angkatan laut Islam yang kuat di masa depan.

Setelah membahas soal kapal-kapal perang, suasana ngaji bergeser ke topik yang agak “panas” di dalam negeri, tepatnya di Kufah. Di sana, Khalifah Utsman melakukan perombakan pejabat. Sa’ad bin Abi Waqqas harus rela turun jabatan dan digantikan oleh Walid bin Uqbah. Gus Ziyyulhaq menceritakan kalau pemicunya sebenarnya masalah klasik tapi sensitif: urusan utang piutang antara Gubernur Sa’ad dengan Abdullah bin Mas’ud, si bendahara negara. Karena ribut-ribut ini bikin suasana pemerintahan jadi nggak kondusif, Khalifah Utsman memilih langkah pragmatis. “Yo wis ben supaya iki ora enek konflik, yo wis karepe opo warga? Dipecat, ngono wae,” (Ya sudah biar ini tidak ada konflik, ya sudah maunya apa warga? Dipecat, begitu saja) jelas Gus Ziyyulhaq. Beliau menekankan kalau keputusan itu murni diambil biar gejolak sosial nggak makin panjang, simpelnya biar warga adem lagi.

Nah, bagian selanjutnya ini yang bikin kami para santri pasang kuping lebih lebar. Pola gonta-ganti pejabat ini ternyata merembet sampai ke Mesir. Amr bin Ash yang baru saja sukses di Iskandariyah, tiba-tiba diberhentikan dan digantikan oleh sosok bernama Abdullah bin Sa’ad bin Abi Saroh. Di sini, Gus Ziyyulhaq sempat berhenti sebentar buat kasih warning ke kami. “Titeni jeneng iki,” (Tandai/ingat-ingatlah nama ini) kata beliau tegas. Ternyata, sosok Abdullah bin Sa’ad ini punya peran penting dalam sejarah kelam di masa depan. Kelak dia juga bakal dipecat, dan rasa sakit hatinya itu jadi salah satu bumbu konflik yang berujung pada fitnah besar terhadap Khalifah Utsman. “Dadi rodok mbulet,” (Jadi agak rumit/berbelit-belit) kata Gus Ziyyulhaq menggambarkan betapa politik masa itu saling kait-mengait dan dampaknya baru kerasa bertahun-tahun kemudian.

Sebelum menutup kitab, Gus Ziyyulhaq menyelipkan satu fakta sejarah lagi di tahun yang sama, yaitu lahirnya putra Muawiyah di Syam yang diberi nama Yazid bin Muawiyah. Beliau menceritakannya datar saja sebagai fakta sejarah, meskipun kami tahu nama ini bakal jadi tokoh sentral di babak sejarah Islam berikutnya. Ngaji pun bubar dengan perasaan campur aduk; tahun 25 Hijriah ini ternyata bukan cuma soal ekspansi wilayah, tapi juga masa-masa di mana pondasi konflik internal mulai tersusun rapi tanpa disadari.

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 66