Sejarah yang Tak Pernah Hitam & Putih

Bagi banyak orang yang pernah belajar sejarah di bangku sekolah, pelajaran ini sering kali terasa kering, penuh angka tahun yang membosankan, dan nama-nama tokoh yang susah dihafal. Namun, bagi audiens yang hadir di acara “Kopdar Ngaji Pasan” di Loods Cafe Tulungagung sekitar 7 tahun lalu, persepsi tentang angka-angka dan nama tokoh sejarah yang membosankan mungkin akan berubah total.

Tak bisa dipungkiri, menengok rentetan materi ngaji pasan sejarah Islam sebelumnya, khususnya di masa Khulafaur Rasyidin, memiliki plot yang lebih menegangkan, rumit dan emosional daripada drama film Captain America: Civil War. Gambaran sebuah hubungan yang rumit antara persahabatan, politik, dan darah.

Kompleksitas itulah yang dibedah dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. Gus Ziyyulhaq mengingatkan kami bahwa kitab ini bukan bacaan ringan. Bayangkan, kitab ini ditulis pada abad ke-13, sekitar tahun 1350 Masehi. Di Jawa, kala itu adalah zamannya Hayam Wuruk memerintah Majapahit menjelang ditulisnya Negarakrtagama.

Secara fisik pun kitab ini sudah mengintimidasi. Totalnya ada sekitar 15 hingga 16 jilid. Tebal sekali, tanpa harakat (gundul), yang kalau dilihat orang awam mungkin seperti “cacing mlungker-mlungker“. Namun di balik ketebalan itu, tersimpan drama manusiawi para sahabat Nabi.

Selalu ada rasa kagum pada sisi kesalehan mereka, namun tak sedikit juga muncul rasa pilu tatkala mengetahui bahwa mereka saling berseteru dan menghunus pedang. Hubungan yang rumit antar-sahabat ini tergambar jelas saat kita menengok masa kepemimpinan Utsman bin Affan.

Utsman bin Affan dinobatkan menjadi Amirul Mukminin pada tahun 644 Masehi, tepatnya tanggal 23 Oktober. Momen ini menjadi titik awal dari sebuah dilema besar, mirip saat Tony Stark dan Steve Rogers harus bertarung karena perbedaan prinsip di Civil War.

Nuansa serupa terjadi pasca-terbunuhnya Umar bin Khattab. Utsman yang baru naik takhta dihadapkan pada “buah simalakama” pertamanya. Yakni, kasus Ubaidullah bin Umar.

Bayangkan posisinya. Ubaidullah, anak dari Umar bin Khattab, baru saja membunuh Hurmuzan dan anak perempuannya karena dendam atas kematian bapaknya. Secara hukum qishas, Ubaidullah harus dihukum mati. Ali bin Abi Thalib, dengan ketegasan hukumnya, mendesak agar qishas dilaksanakan. Namun, Utsman dengan kelembutannya memilih jalan diyat (denda), karena ia tak tega melihat keluarga Umar yang baru saja kehilangan bapaknya, harus kehilangan anaknya pula di waktu yang bersamaan.

Keduanya menginginkan kebaikan melalui jalan yang berbeda. Namun dalam perjalanannya, keputusan ini menjadi percikan api pertama.

Gus Ziyyulhaq memaparkan, ekspansi dan dinamika politik terus berjalan. Sekitar 6 tahun setelah pelantikan, atau sekitar tahun 650 Masehi, wilayah Islam meluas hingga ke Persia, Uzbekistan, Kazakhstan, hingga perbatasan Afrika dan Eropa. Namun, perluasan wilayah ini dibarengi dengan konflik internal yang kian memuncak.

Kisah tragis ini berakhir pada pengepungan rumah Utsman. Beliau dikepung, bukan oleh tentara Romawi, tapi oleh saudara seimannya sendiri yang tidak puas dengan kebijakan politiknya, mulai dari isu nepotisme hingga pemecatan Gubernur Mesir Amru bin Ash yang digantikan oleh saudara susuan Utsman, Abdullah bin Sa’ad.

Utsman bin Affan, sang Dzun Nurain, terbunuh dengan kejam saat sedang membaca Al-Qur’an. Kelak, kematian Utsman ini menjadi “bahan bakar” bagi perseteruan abadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Mirip seperti dua kakak-adik yang berebut kendali setir mobil yang sedang oleng; tujuannya sama-sama ingin selamat, tapi caranya justru membuat situasi makin tak terkendali.

Ali bin Abi Thalib mungkin tidak setuju dengan keputusan Utsman soal diyat. Namun, dalam narasi besar Ibnu Katsir yang ditulis tahun 1350-an itu, mereka semua adalah aktor sejarah yang bergerak berdasarkan ijtihad terbaik di masa itu.

Kami pikir, hubungan yang kompleks antara teks sejarah, realitas politik masa lalu, dan kita yang membacanya hari ini di warung kopi, justru menjadi penguat keimanan. Bahwa Islam diurus oleh manusia dengan segala dinamikanya.

Jadi, kalau kita-kita besok ribut soal pilihan politik, ingatlah tahun 644 Masehi saat Utsman dibaiat dan dinamika setelahnya. Mereka yang dijamin surga saja bisa “gegeran” soal kebijakan negara, apalagi kita yang jaminan surganya masih waiting list.

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 62