Peristiwa Tahun 30-33 H: Reshuffle Zaman Utsman, Selametan Abu Dzar, dan Deportasi Para Qurra

Malam ini, seperti biasa di bulan Ramadhan, kami kembali duduk bersimpuh menyimak kelanjutan ngaji kitab Tarikh Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir bersama Gus Ziyyulhaq. Suasananya tenang, hanya suara Gus Ziyyulhaq dan lembaran kitab yang sesekali dibalik. Kali ini kita masuk ke peristiwa-peristiwa penting di masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan, khususnya mulai tahun 30 Hijriah. Rasanya seperti diajak naik mesin waktu, melihat langsung dinamika umat Islam di masa lalu yang ternyata penuh warna.

Ngaji dibuka dengan sedikit mengulang pembahasan kemarin tentang “perseteruan” antara Muawiyah, yang saat itu menjabat gubernur Syam, dengan sahabat senior, Abu Dzar Al-Ghifari. Intinya, Abu Dzar mengkritik gaya hidup Muawiyah yang dianggap mulai mewah, mirip raja. Nah, Gus Ziyyulhaq juga menekankan lagi biar kita nggak salah paham, wilayah Syam yang dipimpin Muawiyah itu luas banget, bukan cuma Suriah modern. Kata Gus Ziyyulhaq, Syam zaman itu mencakup Yordania (sampai situs Petra yang terkenal itu), Palestina (termasuk Yerusalem, Tepi Barat, Gaza, bahkan wilayah Israel modern seperti Tel Aviv), hingga Suriah sampai perbatasan Turki. Wah, kebayang nggak tuh luasnya? Pantesan jadi wilayah strategis.

Masuk ke tahun 30 Hijriah (sekitar 650 M), Ibnu Katsir mencatat beberapa sahabat Nabi yang wafat. Gus Ziyyulhaq menyebutkan beberapa nama berdasarkan catatan Imam Adz-Dzahabi dan Al-Waqidi: Ubay bin Ka’ab (Salah satu sahabat senior, ahli Al-Qur’an), Jabbar bin Sahr (Pernah ikut dalam Perang Khaibar), dan Khatib bin Ubay (Ikut Perang Badar dan pernah jadi juru tulis Nabi saat negosiasi dengan kaum Quraisy Makkah menjelang Fathu Makkah). Beberapa nama lain seperti Tufail bin Harits, Abdullah bin Ka’ab, Abdullah bin Ma’un (yang ikut hijrah awal ke Ethiopia), Iyadh bin Zuhair, Mas’ud bin Rabiah, Makmar bin Abi Sarah, dan Abu Usaid juga disebutkan wafat di tahun ini. Sayangnya, detail sebab wafatnya beliau-beliau ini nggak dibahas rinci di kitab ini malam ini, mungkin ada di kitab lain, kata Gus Ziyyulhaq.

Setahun kemudian, tahun 31 H (sekitar 651 M), ada peristiwa besar lagi. Terjadi Perang Sawari & Asawidah, ini perang laut antara pasukan Muslim dari Syam melawan bangsa Romawi (Byzantium), dan kaum Muslim menang. Namun, saat perang laut inilah mulai muncul benih-benih konflik internal yang lebih serius. Dua tokoh, Muhammad bin Abi Hudzaifah dan Muhammad bin Abu Bakar (putra Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq), secara terbuka mengkritik Khalifah Utsman. Kritikan utama adalah pengangkatan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah sebagai gubernur Mesir menggantikan Amr bin Ash. Masalahnya, Abdullah bin Sa’ad ini punya track record kurang baik di masa lalu: pernah murtad di zaman Nabi, bahkan katanya pernah menghina Al-Qur’an dan darahnya sempat dihalalkan oleh Rasulullah sebelum akhirnya dimaafkan. Kritik mereka ini keras banget, sampai-sampai mereka bilang darah Utsman jadi halal (boleh dibunuh) karena kebijakan-kebijakannya dianggap menyimpang dari Abu Bakar dan Umar. Suasana sempat panas sampai komandan pasukan (Abdullah bin Sa’ad menurut narasi di audio) melarang mereka ikut perang, tapi akhirnya tetap diizinkan. Di tahun yang sama, wilayah Armenia bagian bawah juga berhasil ditaklukkan oleh Habib bin Maslamah, dan Raja Persia terakhir, Kisra Yazdegerd III, juga tercatat wafat/terbunuh.

Di tahun 32 H (sekitar 652 M), ekspansi wilayah terus berlanjut. Muawiyah kembali memimpin ekspedisi ke wilayah Romawi sampai dekat Konstantinopel, bahkan istrinya Atikah ikut serta. Di front timur, Ibnu Amir juga sukses menaklukkan wilayah-wilayah baru di Persia seperti Marwarrud, Taliqan, Faryab, Jawzajan, dan Tokharistan. Namun, tahun ini juga diwarnai duka dengan wafatnya beberapa tokoh sangat penting: Al-Abbas bin Abdul Muthalib (Paman Nabi Muhammad SAW dan ayah Abdullah bin Abbas), Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) (Sahabat alim ahli fiqih dan Qur’an), serta Abdurrahman bin Auf (Salah satu sahabat yang dijamin masuk surga). Gus Ziyyulhaq sempat membacakan deskripsi prosesi pemakaman dan ciri fisik Abdurrahman bin Auf. Selain itu, Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat yang berselisih dengan Muawiyah, juga wafat di tahun ini di pengasingannya di Rabah. Yang menarik dan sempat jadi perbincangan hangat, jenazahnya dirawat oleh rombongan musafir pengikut Abdullah bin Mas’ud yang kebetulan lewat. Istri Abu Dzar menitipkan seekor kambing kepada mereka, meminta agar disembelih dan dagingnya dimakan bersama-sama sebagai hidangan setelah kematian Abu Dzar (“liya’kuluhu ba’dal maut“). Peristiwa dan permintaan ini dilaporkan ke Abdullah bin Mas’ud dan Khalifah Utsman. Gus Ziyyulhaq menekankan ini sebagai catatan sejarah adanya praktik “selametan” atau hidangan untuk orang meninggal yang diketahui hingga level khalifah saat itu.

Masuk tahun 33 H (sekitar 653 M), muncul lagi masalah serius dari Kufah. Khalifah Utsman memerintahkan deportasi sekelompok Qurra (ahli Al-Qur’an) dari Kufah ke Syam. Penyebabnya, kelompok ini (sekitar 9 atau 10 orang, termasuk Kumail bin Ziyad dan Al-Asytar An-Nakha’i) sering melontarkan kritik keras dan ucapan “tidak pantas” terhadap Khalifah Utsman dan gubernur Kufah, Said bin Ash. Setelah dilapori Said bin Ash, Utsman memerintahkan mereka dipindahkan ke Syam di bawah pengawasan Muawiyah, dengan pesan agar diterima baik tapi dinasihati. Namun, dialog dengan Muawiyah di Syam gagal, mereka justru makin keras menghujat Utsman dan Said bin Ash. Akhirnya, Utsman memerintahkan mereka dikembalikan ke Kufah. Di Kufah, kelakuan mereka malah makin parah. Utsman pun memerintahkan Said bin Ash untuk mendeportasi mereka lagi, kali ini ke Homs di bawah pengawasan Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Kisah para Qurra ini belum selesai di tahun 33 H, kelanjutannya akan dibahas di pertemuan berikutnya.

Ngaji malam ini benar-benar membuka mata tentang betapa kompleksnya situasi politik dan sosial di zaman Khalifah Utsman. Ternyata, isu reshuffle, kritik terhadap pemimpin, penyebaran berita (mungkin sebagian hoax), sampai tindakan tegas seperti deportasi, sudah ada dinamikanya sejak dulu. Kisah selametan Abu Dzar juga jadi catatan menarik tersendiri. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga, terutama tentang pentingnya menjaga lisan, persatuan, dan tabayyun (klarifikasi) di tengah berbagai isu. Sampai jumpa di catatan ngaji berikutnya!

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 66