Proses Tampilnya Ali Bin Abi Tholib Sebagai Amirul Mukminin

Malam tanggal 8 Juli 2018, Warkop Hokya Hokya Ponorogo punya hajat. Warung milik Kang Pardi yang biasanya riuh oleh senda gurau, kini dipadati energi para pencari ilmu. Santri Waskita Jawi dan warga sekitar duduk berlesehan, menghadap sebuah meja kecil di mana kitab Al-Bidayah wan Nihayah telah tergeletak rapi, siap untuk dibedah.

Sembari menunggu, para santri sibuk dengan persiapan “uborampe” mereka. Ada yang menuangkan kopi panas ke lepek agar cepat dingin, disusul suara denting saat cangkir ditiriskan di bibir lepek bersahutan dengan bunyi korek api yang dinyalakan. Rokok dan kopi seakan menjadi sajian wajib yang tak boleh ketinggalan. Tak jauh dari situ, tim media tampak serius menata kabel dan kamera, memastikan rekaman ngaji sejarah malam ini tidak terganggu masalah teknis. Tanpa menunggu lama, pengajian pun dimulai.

Ada yang unik malam ini. Biasanya, para santri akrab dengan kalimat pembuka khas “Tsumma dakholat sanah…” (Kemudian masuklah tahun…) yang menjadi penanda pergantian tahun kejadian dalam kitab Ibnu Katsir. Namun, kali ini kalimat itu tidak terdengar. Gus Ziyyulhaq membuka ngaji cukup dengan basmalah, lalu langsung menukik ke inti materi: “Khilāfatu Amīril Mu’minīna Alīyibni Abī Thālibin” (Kekhalifahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib).

Sebelum masuk materi lebih jauh, beliau sempat menyinggung sedikit mengenai silsilah atau genealogi Ali bin Abi Thalib yang tertulis sangat panjang dalam kitab.

“Wasmuhu Abdu Manaf ibni Abdil Muthalib… Ini sampai seperti ini dowo. Sampai sak lembar dewe, (Namanya Abdu Manaf bin Abdul Muthalib… Ini sampai seperti ini panjang sekali. Sampai satu lembar sendiri.) ujar Gus Ziyyulhaq.

Demi efisiensi waktu agar jamaah tidak mengantuk, beliau memutuskan meringkas bagian nasab tersebut dan langsung masuk ke inti peristiwa, yakni Bay’atu ‘Alīyyin (Baiatnya Ali). Gus Ziyyulhaq lantas memberikan kilas balik agar audiens, terutama yang baru hadir atau masyarakat umum, bisa memahami konteksnya.

“Nek langsung ujuk-ujuk iki, jenengan pasti mboten paham. Kuwi piye, ujuk-ujuk kok ngono,? (Kalau langsung tiba-tiba begini, Anda pasti tidak paham. Itu bagaimana, kok tiba-tiba begitu?) tegas Gus Ziyyulhaq.

Gus Ziyyulhaq menggambarkan situasi kala itu berada dalam kekacauan total (chaos). Utsman bin Affan baru saja syahid dibunuh pemberontak, membuat dunia Islam kehilangan kepala negara. Di tengah kekacauan tersebut, harapan tertumpu pada empat sahabat yang dianggap “sesepuh”, yakni Sa’ad bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Keempat sahabat utama ini tidak ada yang berambisi. Malah, mereka lari.

“Sing Thalhah karo Zubair mlayu ndhelik, ndhelik neng lereng gunung. Sing Ali bin Abi Thalib karo Sa’ad bin Abi Waqqas, ndhelik neng omahe, (Thalhah dan Zubair lari bersembunyi, sembunyi di lereng gunung. Sedangkan Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Abi Waqqas, sembunyi di rumahnya.) terang Gus Ziyyulhaq.

Absennya para figur kunci ini justru membuat situasi di akar rumput makin liar tak terkendali. Kekosongan kepemimpinan tersebut lantas dimanfaatkan oleh masing-masing kubu untuk melancarkan propaganda. Gus Ziyyulhaq menyoroti poin ini sebagai fenomena menarik, sebuah intrik yang mirip dengan “perang opini” zaman sekarang. Masyarakat terpecah dan pendukung masing-masing kubu saling menjatuhkan.

Gus Ziyyulhaq menarasikan kondisi itu dengan jenaka namun menohok:

“Geger, tukaran dewe-dewe, kirim-kiriman hoax. Ali bin Abi Thalib digambarne ndhek, gundul, botak, terus siyunge dowo…” (Geger, bertengkar sendiri-sendiri, kirim-kiriman hoax. Ali bin Abi Thalib digambarkan pendek, gundul, botak, lalu taringnya panjang…)

Beliau melanjutkan gambaran “kampanye hitam” masa itu:

“Ndhukung Thalhah gawe meme. Wong lanang diserbani putih, dipacaki jenggoté ketel. Sedakep tapi tangane buntung.” (Yang mendukung Thalhah membuat meme. Laki-laki berserban putih, didandani jenggotnya tebal. Bersedekap tapi tangannya buntung.)

Situasi ini menggambarkan betapa umat Islam saat itu kehilangan arah dan tidak satu suara, bahkan di dalam kubu mereka sendiri. Kekacauan sosial ini berdampak langsung pada kelumpuhan di pusat pemerintahan.

Dalam kekosongan kekuasaan (vacuum of power) tersebut, Gus Ziyyulhaq menyoroti sebuah fakta sejarah yang cukup mengagetkan. Siapakah yang memimpin pemerintahan sementara dan menjadi imam salat lima waktu di Masjid Nabawi saat para sahabat senior bersembunyi? Dia adalah Al-Ghafiqi bin Harb, tokoh utama pembunuh Utsman.

Seolah membaca raut wajah para santri yang tak habis pikir bagaimana bisa seorang pembunuh memimpin salat di masjid Agung di Madinah, Gus Ziyyulhaq lantas melontarkan sentilan khasnya:

“Wong pembunuh oleh dadi imam lho… Lek melu ittiba’ sahabat Nabi yo oleh.” (Orang pembunuh boleh jadi imam lho… Kalau ikut meniru kejadian zaman sahabat Nabi ya boleh.)

Akan tetapi, situasi darurat ini tidak bisa berlangsung selamanya. Rakyat butuh Khalifah. Karena desakan keadaan dan ancaman dari kelompok pemberontak, masyarakat Madinah dipaksa memilih pemimpin. Pilihan jatuh pada Ali bin Abi Thalib melalui paksaan (coercion).

Seberapa kuat paksaan itu? Sangat kuat hingga Ali harus bersembunyi. Dalam kitab disebutkan Ali sempat lari ke kebun Bani Amr bin Mabdhul dan mengunci pintu, namun massa mendobrak masuk. Gus Ziyyulhaq menggambarkan adegan baiat itu dengan sangat visual. Ali tidak tampil gagah layaknya pelantikan raja, melainkan diseret menuju Masjid Nabawi.

“Ali bin Abi Thalib dicekel, di glendeng kuwi dalam keadaan sarungan. Sarungan, karo nyangking sandale dicangking. Digiring neng mimbar, (Ali bin Abi Thalib dipegang, diseret itu dalam keadaan sarungan. Sarungan, sambil menenteng sandalnya dibawa. Digiring ke mimbar.) kisah Gus Ziyyulhaq.

Narasi yang terdengar jenaka ini sejatinya adalah teks asli Ibnu Katsir yang diterjemahkan secara setia oleh Gus Ziyyulhaq. Di dalam teks kitab disebutkan: “Wa ‘alaihi izārun wa ‘imāmatu khuzzin wa na’lāhu fī yadihī.” Ali mengenakan sarung, serban sutra, dan sandalnya berada di tangannya. Beliau naik ke mimbar sambil bersandar pada busur/tongkatnya dengan hati yang berat.

Akhirnya, tak ada pilihan lain bagi Ali bin Abi Thalib. Di bawah ancaman pedang dan demi menyelamatkan umat, Ali akhirnya menerima baiat tersebut pada hari Sabtu, 19 Dzulhijjah tahun 35 Hijriyah.

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 62