Perang Jamal : Perang Antara Kubu Siti Aisyah melawan Kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib

Peristiwa Perang Bashrah atau yang juga dikenal sebagai Perang Jamal merupakan salah satu catatan kelam dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun setelah Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai Khalifah pada tahun 37 H/658 M. Konflik ini berakar dari tuntutan kubu Aisyah agar para pembunuh Utsman bin Affan segera ditangkap dan diadili. Namun di sisi lain, kondisi politik yang carut-marut membuat Khalifah Ali belum mampu memenuhi tuntutan tersebut. Perbedaan prioritas ini kemudian dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk melakukan provokasi hingga rencana perdamaian yang sempat dirundingkan akhirnya gagal tercapai.

Perang bermula ketika kelompok yang menuntut keadilan atas kematian Utsman ini memutuskan untuk berkumpul di Makkah. Di bawah arahan tokoh-tokoh utama seperti Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam, mereka sepakat bahwa pemerintah di bawah Khalifah Ali sudah terlalu lamban dalam bertindak. Bahkan, mereka mencurigai adanya pelaku kriminal yang justru diberi jabatan strategis, seperti Utsman bin Hunaif yang menjadi Gubernur Bashrah.

Didanai oleh seorang saudagar kaya bernama Ya’la bin Umayyah, rombongan dari Makkah ini bergerak menuju Bashrah dengan membawa sekitar 12.000 pasukan. Tujuan mereka tidak lain untuk menangkap Utsman bin Hunaif dan kroni-kroninya yang dianggap terlibat dalam kematian Khalifah sebelumnya.

Mendengar pergerakan ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib yang saat itu berada di Madinah segera bertindak. Beliau mengumpulkan pasukan dari Madinah dan Kufah untuk menghadang rombongan Makkah. Namun, tujuan utama Ali bukan untuk berperang, melainkan untuk melindungi warga Bashrah dari kemungkinan pembantaian dan mencegah pecahnya perang saudara.

Selama berminggu-minggu perjalanan, terjadi surat-menyurat atau korespondensi antara kedua belah pihak. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair akan janji setia (baiat) mereka dan menawarkan solusi agar masalah diselesaikan lewat jalur pengadilan, bukan senjata. Negosiasi ini sebenarnya hampir berhasil. Kelompok Makkah, termasuk Aisyah, sudah bersiap untuk pulang ke Madinah setelah tercapai kesepakatan damai.

Keberhasilan perdamaian ini menjadi kabar buruk bagi kelompok pembunuh Utsman yang berada di Bashrah. Mereka merasa terancam jika Ali dan kelompok Makkah bersatu untuk mengadili mereka. Untuk menyelamatkan diri, kelompok ini menjalankan strategi adu domba agar rencana perdamaian tersebut berantakan.

Strategi tersebut dijalankan pada malam hari dengan membagi tugas kepada beberapa orang untuk menyusup ke kamp pasukan Ali dengan berpura-pura sebagai orang Makkah, dan sebagian lagi menyusup ke perkemahan Makkah dengan berpura-pura sebagai pasukan Ali. Mereka membunuh orang di kedua belah pihak di tengah kegelapan malam. Akibatnya, saat fajar tiba, kedua kubu merasa dikhianati. Mereka mengira kesepakatan damai semalam hanyalah tipu muslihat untuk menyerang saat tidur.

Kemarahan kedua kubu tidak lagi terbendung. Pasukan Makkah yang dipimpin oleh Aisyah yang menaiki unta bernama Askar, segera bergerak menggempur. Perang dahsyat pun meletus di daerah perbatasan Bashrah.

Meskipun secara jumlah pasukan yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib hanya berkisar antara 5.000 hingga 6.000 orang saja. Yang berarti jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 12.000 pasukan dari Makkah. Namun, walau dengan jumlah pasukan sedikit Khalifah Ali menerapkan strategi gerilya yang cukup taktis. Pasukan Ali sengaja menghindari benturan besar secara langsung dan memilih untuk muncul sedikit demi sedikit dari berbagai arah. Strategi ini untuk memancing lawan agar berpindah ke lokasi tertentu yang sudah disiapkan. Cara bertempur semacam ini terbukti sangat efektif karena perlahan-lahan membuat pasukan lawan menjadi kelelahan serta kehilangan banyak personel tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Lama-kelamaan, kepungan pasukan Ali yang bergerak rapi seperti “supit urang” (penjepit udang) mulai mengunci posisi lawan yang sudah kepayahan. Strategi ini akhirnya mampu memecah barisan pertahanan kelompok Makkah hingga mereka tak lagi mampu menahan gempuran pasukaan Ali. Perang pun berakhir dengan kekalahan pihak Makkah.

Thalhah bin Ubaidillah gugur setelah ditombak oleh Marwan bin Hakam. Kejadian bermula saat Thalhah bersama Zubair bin Awwam dan Aisyah sebenarnya sudah merasa tidak ingin melanjutkan peperangan dan berniat untuk mundur saja karena melihat sesama muslim sudah mulai saling bunuh. Namun Marwan bin Hakam yang saat itu menjabat sebagai sekretaris mendiang Utsman bin Affan merasa tidak terima dengan keputusan tersebut. Ia menganggap mundurnya Thalhah sebagai bentuk pengkhianatan di tengah berkecamuknya perang sehingga ia melepaskan tombaknya tepat ke arah Thalhah hingga menyebabkannya wafat di lokasi tersebut. Keadaan semakin memilukan karena tidak lama setelah itu Zubair bin Awwam pun turut tewas dalam rangkaian peristiwa berdarah ini yang menambah daftar panjang gugurnya para sahabat senior di tanah Bashrah.

Berakhirnya perang ini tidak membawa kelegaan bagi Ali bin Abi Thalib. Alih-alih merasa menang, Ali justru turun ke lapangan dengan perasaan hancur saat melihat ribuan jenazah bergelimpangan di depan matanya. Berdasarkan catatan sejarah, sekitar 7.000 orang dari pihak Makkah dan 2.000 orang dari pihak Ali tewas di tanah Bashrah. Sambil menangis, Ali memeriksa satu per satu jenazah sahabat seniornya dan meratapi kenyataan bahwa sesama muslim yang berkiblat sama harus saling bunuh. Khalifah Ali kemudian menginstruksikan agar seluruh jenazah dimakamkan secara massal dengan layak, serta memberikan perlindungan penuh kepada Aisyah agar tidak ada satu pun orang yang berani melukainya.

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 62