“Jan ora enek titike blas (benar-benar tidak ada titiknya sama sekali),” komentar Gus Ziyyulhaq setengah bercanda sambil memicingkan mata menatap kitab gundul Al-Bidayah wan Nihayah di hadapannya. Namun, di balik teks Arab yang padat tanpa spasi itu, tersimpan sebuah thriller sejarah yang penuh misteri. Malam ini, kami diajak membongkar puzzle rumit tentang bagaimana selembar surat bisa memicu kekacauan fatal, dan bagaimana sebuah stempel resmi bisa berpindah tangan tanpa sepengetahuan Khalifah.
Seperti biasa, Gus Ziyyulhaq mengawali ngaji dengan kalimat “Tsumma dakholat sanatu khomsin wa salatsina, fafiha maqtolu Utsmanin radhiyallahu anhu.” (Kemudian masuklah tahun 35 Hijriah, dan di dalamnya terjadi peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan RA). Kalimat khas pembuka ngaji sejarah dengan Gus Ziyyulhaq yang masih terngiang dalam ingatan hingga hari ini.
Di tahun ini, Muhammad bin Abu Bakar, yang baru saja dilantik resmi menjadi Gubernur Mesir dan sedang dalam perjalanan ke sana, tiba-tiba memutar balik kudanya kembali ke Madinah. Wajahnya merah padam, tangannya menggenggam bukti yang mematikan. Ia membawa dua surat dengan stempel resmi Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Surat pertama adalah SK pengangkatannya sebagai gubernur, namun surat kedua (yang ia cegat di tengah jalan) isinya mengerikan: perintah kepada penduduk Mesir untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar setibanya di sana.
Madinah gempar. Muhammad bin Abu Bakar langsung melabrak, meminta penjelasan. Gus Ziyyulhaq menggambarkan suasana saat itu seperti “Jumpa Pers” atau konferensi pers yang sangat panas di depan Masjid Nabawi. Semua tokoh kumpul: Utsman, Ali bin Abi Thalib, para Qadi, hingga gerombolan pemberontak (Qura).
Di hadapan massa yang marah, Utsman bin Affan bersumpah. “Demi Allah, aku ora ngerti! Sopo sing nulis, sopo sing nyetempel,” (Demi Allah, aku tidak tahu! Siapa yang menulis, siapa yang menyetempel), tegas Utsman dengan nada kaget setengah mati. Beliau mengakui surat pengangkatan gubernur, tapi menolak mentah-mentah surat perintah pembunuhan itu.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Massa tidak percaya. “Lho wong stempel itu di dalam kekuasaan, di dalam kewenangane sampeyan kok sampe sampeyan ora eruh,” (Lho, stempel itu ada dalam kekuasaan dan kewenangan Anda, kok sampai Anda tidak tahu), teriak para pemberontak. Logika mereka sederhana: stempel resmi presiden ada di surat itu, berarti presiden yang bertanggung jawab. Suasana nyaris chaos. Pedang-pedang sudah terhunus. Gus Ziyyulhaq menyebut momen itu berakhir deadlock—buntu, tanpa solusi, dan nyaris pertumpahan darah jika tidak dilerai oleh Ali bin Abi Thalib.
Di sinilah Gus Ziyyulhaq meluruskan pandangan kami yang sering salah sangka. Kami pikir Ali dan Utsman bermusuhan, ternyata tidak. Justru pasca kejadian itu, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk menjadi tameng hidup bagi Utsman. “Wis jogonen terus. Siaga satu (Ya sudah, jaga terus, siaga satu),” perintah Ali.
Gus Ziyyulhaq menggambarkan situasi genting itu dengan visualisasi yang mencekam. Utsman tetap memimpin salat jamaah lima waktu, tapi dengan pengawalan ketat ala “Paspampres”. Di belakang Utsman bukan makmum biasa, melainkan prajurit bersenjata lengkap yang menghadap ke arah jamaah, menjaga punggung Khalifah. Mirip Salat Khauf (salat dalam kondisi perang). Bahkan, saking riuhnya suasana masjid yang dikuasai pemberontak, suara takbir Utsman harus disambung oleh Bilal agar terdengar oleh jamaah.
Lantas, jika Utsman tidak menulis surat itu, siapa pelakunya?
Majelis Qadi (Tim Pencari Fakta) yang dibentuk Ali akhirnya bergerak. Kecurigaan mengerucut pada satu posisi krusial: Sekretaris Negara (Mensesneg). Gus Ziyyulhaq menjelaskan bahwa stempel kekhalifahan itu tersimpan dalam kotak khusus di kantor (Diwan), tidak selalu dibawa Utsman. Orang yang punya akses penuh untuk menulis surat kenegaraan dan memakai stempel itu tak lain adalah Marwan bin Hakam.
“Marwan bin Hakam iki dulure Utsman bin Affan,” kata Gus Ziyyulhaq memperkenalkan tokoh antagonis baru dalam sejarah ini. Selama ini namanya tak terdengar, tapi dialah sosok di balik layar yang memegang pena administrasi negara. Dugaan kuat mengarah padanya: Marwan-lah yang bermain api dengan stempel khalifah, memicu fitnah yang nyaris membakar Madinah hingga hangus. Kami menahan napas, menyadari bahwa puzzle sejarah ini makin rumit, apalagi ketika Gus Ziyyulhaq menyinggung soal “cincin stempel” yang pernah jatuh ke sumur di masa lalu. Sebuah isyarat bahwa misteri ini berakar jauh lebih dalam dari yang kami duga.




