Jalan Panjang Utsman bin Affan Menuju Kursi Khalifah

Malam semakin larut, tapi kami di Ndalem Seringin justru semakin antusias menyimak kelanjutan kisah yang disampaikan Gus Ziyyulhaq. Melanjutkan dari pertemuan sebelumnya, malam ini kami diajak masuk lebih dalam ke ruang musyawarah yang begitu menegangkan pasca wafatnya Khalifah Umar bin Khattab. Enam sahabat yang ditunjuk sebagai tim musyawarah berkumpul, namun bukan untuk berebut kursi, melainkan justru untuk saling melempar tanggung jawab yang mereka anggap teramat berat.

Gus Ziyyulhaq memulai ngaji dengan mengingatkan konteks kritis saat itu: Wilayah Islam sudah sangat luas, membentang dari Persia, Romawi, hingga Mesir dan Yerusalem, dan umat Muslim sangat menolak pola pemerintahan model kerajaan yang zalim maupun model kesukuan. Kebutuhan akan pemimpin tunggal yang adil adalah mutlak. Peristiwa ini berawal ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam dan terluka parah. Menurut catatan Ibnu Katsir, Umar masih bertahan selama tiga hari (sekitar Oktober 644 Masehi) sebelum wafat. Dalam masa kritis itulah, Umar membuat keputusan; menyerahkan penentuan pemimpin baru kepada Dewan Syura (musyawarah) yang terdiri dari enam tokoh sentral: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak keras menunjuk pengganti secara langsung, bahkan menolak usulan agar menunjuk anaknya, Abdullah bin Umar (walaupun alim dan difavoritkan), atau anak pamannya, Sa’id bin Zaid, karena khawatir dianggap berpihak dan menimbulkan beban pertanggungjawaban di hadapan Allah. Umar berwasiat agar Abdullah bin Umar hadir sebagai penasihat, namun tidak memiliki hak untuk dipilih. Beliau juga mewasiatkan Suhaib bin Sinan untuk memimpin shalat selama tiga hari sampai musyawarah selesai.

Gus Ziyyulhaq menjelaskan, perdebatan di antara enam orang ini—yang dikumpulkan oleh Miqdad bin Aswad di suatu rumah, dan dijaga ketat oleh Abu Thalhah al-Anshari bersama 50 orang kaum Muslim—berlangsung sangat alot, bahkan hingga berhari-hari setelah pemakaman Umar. Di tengah kebuntuan itu, satu per satu dari mereka mulai mengambil sikap yang luar biasa untuk mencari jalan keluar: Zubair bin Awwam menyatakan mundur dan menyerahkan haknya untuk dipilih kepada Ali bin Abi Thalib. Kemudian, Sa’ad bin Abi Waqqash melakukan hal serupa dan melimpahkan haknya kepada Abdurrahman bin Auf. Tak lama, Thalhah bin Ubaidillah juga ikut mundur dan menyerahkan haknya kepada Utsman bin Affan. Kini, kandidat hanya tersisa tiga: Ali, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf.

Di titik inilah, Abdurrahman bin Auf, selaku pemimpin musyawarah, mengambil langkah besar. Beliau juga menyatakan bersedia melepaskan haknya untuk menjadi khalifah, dengan satu syarat: ia diberi mandat penuh untuk memilih satu di antara dua kandidat tersisa, yaitu Ali atau Utsman. Ali dan Utsman pun setuju. Sejak saat itu, dimulailah sebuah proses yang mungkin bisa disebut sebagai “jajak pendapat” ala Madinah. Selama tiga hari tiga malam, Abdurrahman bin Auf tidak bisa tidur. Siangnya, beliau berkeliling tanpa lelah menemui siapa saja—pemimpin kaum, rakyat biasa, bahkan para musafir yang baru tiba di kota—untuk menanyakan pendapat mereka. Beliau bahkan sampai mendatangi para wanita di rumah-rumah mereka dan bertanya kepada anak-anak kecil yang sedang bermain, demi menangkap suara hati umat yang sesungguhnya. Gus Ziyyulhaq juga menyebutkan momen ketika Amru bin Ash dan Mughirah bin Syu’bah mencoba mendekati musyawarah, namun langsung diusir oleh Sa’ad bin Abi Waqqas agar tidak ada intervensi.

Setelah tiga hari yang melelahkan itu, Gus Ziyyulhaq menuturkan bahwa hampir semua suara yang didengar oleh Abdurrahman bin Auf mengarah kepada satu nama: Utsman bin Affan. Pada malam keempat, Abdurrahman bin Auf akhirnya merasa mantap. Beliau mengutus kerabatnya, Miswar bin Mukhzimah, untuk memanggil Ali dan Utsman. Miswar sempat bingung siapa yang harus ia panggil lebih dulu, karena khawatir akan menimbulkan tafsir yang salah, namun Abdurrahman bin Auf hanya menjawab, “Panggil siapa saja yang kamu kehendaki.” Miswar pun mendatangi rumah Ali terlebih dahulu, lalu berlanjut ke rumah Utsman. Dikisahkan, Utsman saat itu sedang khusyuk melaksanakan salat witir hingga menjelang fajar. Keduanya pun datang memenuhi panggilan di tengah keheningan malam. Suasana begitu tegang dan penuh penantian. Kisah malam ini berhenti di situ, membuat kami semua pulang dengan rasa penasaran yang memuncak, menanti kelanjutan ngaji di pertemuan berikutnya, di mana Abdurrahman bin Auf akan mengumumkan hasil musyawarah dan penobatan Khalifah yang baru.

Bagikan Artikel ini:
Santri Waskita Jawi
Santri Waskita Jawi
Articles: 66