Aroma kopi yang baru saja diseduh Kang Sigit merebak di serambi nDalem Seringin, bercampur dengan udara malam yang mulai dingin. Di hadapan meja kecilnya, Gus Ziyyulhaq tampak tak terganggu oleh suara deru motor para santri yang satu per satu mulai memadati halaman. Beliau tenggelam dalam muthala’ah (menelaah), membolak-balik halaman kitab tebal Al-Bidayah wan Nihayah dengan tatapan serius, seolah sedang menyusun kepingan puzzle sejarah yang rumit. Ketika gelas kopi diantarkan dan para santri sudah duduk bersila, barulah beliau mengangkat wajah dan memulai ngaji.
Sebelum masuk ke inti konflik, Gus Ziyyulhaq menyoroti sebuah kisah nyelempit (kisah yang terselip) yang dicatat Ibnu Katsir. Sambil geleng-geleng kepala, beliau berkomentar, “Ngene iki nyapo Ibnu Katsir ndadak ditulis barang ngono, kurang gawean menurutku,” (Begini ini kenapa Ibnu Katsir mendadak menulis hal seperti itu, kurang kerjaan menurutku), canda beliau yang disambut senyum para santri. Kisah itu tentang Muawiyah yang keluar dari majelis di Madinah dengan gaya petentang-petenteng (berlagak sombong).
“Melaku regunuk-regunuk ngliwati Ali, Zubair, karo Talhah. Muawiyah berbaring alahi ing atase busur panahe,” (Berjalan santai melewati Ali, Zubair, dan Talhah. Muawiyah berbaring di atas busur panahnya), jelas Gus Ziyyulhaq menggambarkan betapa santainya Muawiyah di tengah situasi genting. Detail kecil ini seolah menjadi kode alam tentang watak tokoh yang kelak memegang kendali.
Pembahasan kian serius ketika beliau mengupas kegagalan strategi pengiriman para Qura ke medan perang. “Ternyata dikirim ke medan perang memang ora podo mati,” (Ternyata dikirim ke medan perang memang tidak pada mati), kata beliau. “Tujuane iki ben mati engko masalah iki ben rampung, malah ora mati akhire podo balik neh,” (Tujuannya biar mati nanti masalah ini biar selesai, malah tidak mati akhirnya pada balik lagi). Kembalinya mereka inilah yang memicu babak baru sejarah berdarah tahun 35 Hijriah.
Gus Ziyyulhaq kemudian mengajak kami flashback (kilas balik) ke Mesir untuk mencari akar masalahnya. Di sana, Gubernur Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah diprotes keras oleh rakyatnya. Gus Ziyyulhaq merinci alasannya dengan lugas:
“Sing pertama, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Saroh iki konangan ora gelem salat,” (Yang pertama, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah ini ketahuan tidak mau salat). “Kemudian persoalan yang kedua adalah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Saroh menguasai Baitulmal Mesir.”
Untuk memudahkan kami memahami betapa fatalnya tindakan menguasai Baitulmal itu, Gus Ziyyulhaq menggunakan analogi yang sangat relate dengan kondisi sekarang. “Iki nyapo gubernur anyar tiba-tiba kok langsung opo? Menguasai Baitulmal. Presiden ujug-ujug ngerangkul APBN. Iki opo iki? Enek skandal opo?” (Ini kenapa gubernur baru tiba-tiba kok langsung apa? Menguasai Baitulmal. Presiden tiba-tiba memeluk/menguasai APBN. Ini apa ini? Ada skandal apa?). Analogi itu membuat kami langsung paham kenapa rakyat Mesir saat itu begitu marah.
Masalah kian runyam karena sang gubernur adalah kerabat Khalifah. Muncul narasi bahwa ia tak tersentuh hukum. Gus Ziyyulhaq menjelaskan bagaimana pola pikir rakyat saat itu, “Oh berarti iki memang Amirul Mukminin Utsman bin Affan memang sedang dalam tema mengangkat kerabat-kerabatnya.”
Isu nepotisme ini menular cepat. Rakyat melihat pola yang sama di berbagai wilayah. “Ning Kufah ternyata yo ngono. Ning Syam Damaskus ternyata yo ngono sisan,” (Di Kufah ternyata ya begitu. Di Syam Damaskus ternyata ya begitu juga), lanjut beliau. Kufah dipimpin Sa’id bin Ash (kerabat Utsman), dan Syam dipimpin Muawiyah (juga kerabat Utsman).
“Wah wis lek iki jelas. Ini adalah persoalan-persoalan nepotisme,” tegas Gus Ziyyulhaq menyimpulkan pandangan publik saat itu. Tiga pilar utama kekuatan Islam seolah dikuasai satu keluarga besar, memicu kecurigaan yang kian meluas dan tak terbendung.




