Memasuki hari-hari terakhir pertempuran, kedua belah pihak berada pada titik kelelahan yang luar biasa. Situasi ini memicu desakan kuat dari dalam pasukan Kufah agar Khalifah Ali segera mengakhiri peperangan yang seolah tidak kunjung usai. Menanggapi kondisi tersebut, Khalifah Ali mengambil langkah untuk memompa kembali mental bertarung pasukannya melalui ibadah shalat tahajud, pembacaan Al-Qur’an, serta zikir sepanjang malam.
Keesokan paginya, Khalifah Ali memimpin langsung serangan besar-besaran dengan menggerakkan sayap kanan pasukannya untuk menghantam sayap kiri pasukan Syam. Serangan mendadak pada hari kesembilan ini terbukti fatal bagi kubu Muawiyah. Pertahanan pasukan Syam jebol dan menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Selain memimpin strategi, sejarawan mencatat bahwa Khalifah Ali terlibat langsung di garis depan pertempuran dan berhasil menumbangkan sekitar 500 prajurit dari pihak lawan.
Duel di Medan Laga: Ali bin Abi Thalib Melawan Para Ksatria Syam
Saat Khalifah Ali mulai mendekati posisi komando Muawiyah, beberapa perwira pilihan dari pasukan Syam maju menghadang. Salah satunya adalah Quraib bin Shobah, yang sebelumnya telah membunuh empat prajurit Irak. Ia menginjak jasad keempat prajurit tersebut dan berteriak menantang duel satu lawan satu. Tantangan tersebut langsung dijawab oleh Khalifah Ali. Duel berlangsung sangat singkat; hanya dalam beberapa gebrakan, Khalifah Ali berhasil menewaskan Quraib.
Melihat jagoan mereka tumbang, ksatria pasukan Syam berikutnya, Harits bin Wadi’ah al-Humairi, maju memberikan perlawanan, namun ia juga roboh dalam waktu sesaat. Tokoh ketiga dan keempat, yaitu Ruwat bin Harits al-Qila’i dan Mutho’ bin Muthollib al-Qoisi, juga mengalami nasib yang sama di tangan Khalifah Ali. Setelah menumbangkan empat perwira pilihan tersebut, Khalifah Ali menancapkan senjatanya ke tanah sambil menyitir Surat Al-Baqarah ayat 194, yang menegaskan bahwa pada bulan-bulan haram tetap berlaku hukum qishash. Tindakan ini menjadi peringatan keras bagi moral pasukan Syam yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Siasat Amru bin Ash dan Konfrontasi dengan Muawiyah
Setelah membersihkan area pertempuran, Khalifah Ali berteriak memanggil Muawiyah untuk berduel secara jantan agar perselisihan selesai tanpa mengorbankan lebih banyak nyawa prajurit Arab. Mendengar hal itu, Amru bin Ash mendesak Muawiyah untuk maju bertarung, menilai Khalifah Ali sudah mulai kelelahan. Namun, Muawiyah menyadari kapasitas bertarung Khalifah Ali yang tidak pernah kalah dalam duel fisik. Muawiyah justru mencurigai anjuran tersebut sebagai taktik politik Amru bin Ash agar kursi kepemimpinan di Syam nantinya jatuh ke tangannya. Muawiyah menolak dan justru memerintahkan Amru bin Ash sendiri yang maju menghadapi Khalifah Ali.
Sebagai perwira yang terikat komando, Amru bin Ash akhirnya maju ke medan laga. Pertarungan berlangsung cukup sengit hingga akhirnya sebuah hantaman tombak keras dari Khalifah Ali berhasil menjatuhkan Amru bin Ash ke tanah. Ketika terhempas, pakaian bagian bawah Amru bin Ash tersingkap hingga memperlihatkan aurat bagian belakangnya. Melihat musuhnya tak berdaya dalam kondisi tersebut, Khalifah Ali memilih menurunkan senjatanya dan berbalik arah kembali ke pasukannya. Keputusan ini memicu pertanyaan dari para pengikutnya. Khalifah Ali menjelaskan bahwa Amru bin Ash sengaja menggunakan taktik menyingkapkan aurat untuk meminta perlindungan moral agar tidak dibunuh. Di sisi lain, ketika Amru bin Ash kembali ke tenda dalam keadaan selamat, Muawiyah berseloroh bahwa Amru harus bersyukur kepada Allah sekaligus berterima kasih kepada bagian tubuhnya yang tersingkap karena hal itulah yang menyelamatkannya dari kematian.
Kondisi Geografis dan Kematian Ammar bin Yasir
Untuk melurnskan sejarah, lokasi pertempuran di pinggiran Sungai Efrat merupakan daerah yang subur dengan vegetasi lebat, bukan padang pasir gersang. Pada hari-hari terakhir pertempuran, wilayah tersebut diguyur hujan sangat deras hingga medan perang berubah menjadi kubangan lumpur. Kondisi ekstrem ini memaksa para prajurit yang kehilangan senjata untuk saling melempar lumpur demi bertahan hidup, yang memicu kelelahan ekstrem di kedua belah pihak.
Di tengah situasi pelik tersebut, Ammar bin Yasir, sahabat senior di barisan Khalifah Ali, gugur terkena panah pasukan Syam. Peristiwa ini menjadi titik balik teologis yang besar. Gugurnya Ammar menghidupkan kembali ingatan tentang sabda Nabi Muhammad bahwa kelak Ammar akan dibunuh oleh kelompok pemberontak (al-fi’atul baaghiyah), dan minuman terakhirnya di dunia adalah susu. Sebelum maju ke garis depan, Ammar memang baru saja meminum susu. Kematian Ammar membuat kubu Muawiyah terguncang secara moral karena dicap sebagai pemberontak. Namun, Muawiyah berargumen secara politik bahwa pihak yang membunuh Ammar adalah Khalifah Ali sendiri yang telah menyeretnya ke dalam pusaran konflik bersenjata ini.
Kontroversi Pandangan Politik dan Akhir Perang
Ibnu Katsir mencatat bahwa sebelum perang, Ammar bin Yasir memiliki pandangan keras terhadap pemerintahan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan. Ammar menilai akhir tragis pembunuhan Utsman bukanlah kezaliman, melainkan konsekuensi logis dari gaya kepemimpinannya yang dinilai terjebak dalam kecintaan dunia dan jabatan. Karena itu, Ammar menganggap kematian Utsman sebagai hal yang wajar dan tidak perlu diusut. Pandangan inilah yang menempatkannya di kubu Khalifah Ali, sekaligus membuatnya dicurigai oleh pihak Muawiyah.
Secara posisi politik, Muawiyah bukanlah pemberontak dalam pengertian klasik, melainkan Gubernur Syam sah bentukan Umar bin Khattab yang menunda baiat kepada Ali. Muawiyah menuntut agar pembunuh Utsman ditangkap terlebih dahulu sebagai syarat kepatuhan hukum. Konflik bersenjata ini akhirnya mencapai titik jenuh saat kedua belah faksi berada dalam kondisi lumpuh. Perang Siffin resmi berakhir ketika pasukan Syam mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak mereka sebagai seruan gencatan senjata, yang memaksa Khalifah Ali menghentikan pertempuran dan membuka jalan bagi peristiwa Tahkim (arbitrase) pada pertemuan berikutnya.




